Dana Besar Tidak Jaminan Menang Pemilu

JAKARTA—Dana Kampanye yang begitu besar dan dimiliki oleh partai politik dinilai tidak jaminan untuk memenangkan pemilu 2014 ini. Hal terpenting untuk memenangkan pemilu justeru adalah kemampuan meyakinkan rakyat agar mau memilih kader terbaik dari partai itu sendiri. “Tidak ada jaminan menang meski dana kampanyenya besar,” kata Pengamat Politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit saat dihubungi, Minggu, (2/3).

Apalagi, lanjut Arbi, tokoh yang disodorkan oleh partai politik tersebut bukanlah seseorang pilihan rakyat. Demikian pula jika partai tersebut menyodorkan sosok yang mempunyai catatan miring pada masa lalu. Tentunya rakyat sebagai pemilik suara yang dilindungi undang-undang tidak akan menyia-nyiakan hak untuk memilih partai apalagi sosok tersebut. “Memangnya orang mau pilih Prabowo? Prabowo itu faktor kekalahannya. Dibayar berapapun  orang sekarang ini kan punya sikap dan punya harapan,” lanjut Arbi.

Untuk diketahui, hingga berita ini diturunkan Partai Gerindera telah melaporkan dana kampanye kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hingga berita ini diturunkan Gerinder adalah partai politik yang mempunyai total dana kampanye paling besar, yakni sebesar Rp 306 miliar.

Dengan jumlah dana kampanye yang berbeda jauh dari partai politik lainnya, Arbi kembali mempertanyakan prinsip kesamaan dalam berdemokrasi di negara ini. Seharusnya, menurut Arbi, partai politik lain juga mampu mempunyai dana kampanye dalam jumlah yang berimbang. “Yang kita pertanyakan itu, prinsip demokrasi itu kan persamaan. Persamaan hak, persamaan peluang, persamaan prosedur. Kalau jumlah dananya besar sendiri dari mana persamaannya?” tanya Arbi.

Terkait sumber dana kampanye yang besar itu Arbi mengaku tidak heran dan tidak menaruh curiga. Menurut dia dengan dana milik Prabowo dibagungkan dari adiknya, maka Gerindera akan mempunyai sumber dana sangat besar. “Prabowo punya bisnis besar adiknya juga besar, dia juga yang tanggung, dijualnya assetnya. Tidak usah khawatir amat,” jelas Arbi.

Sementara itu Ketua Umum Partai Gerindera, Suhardi mengatakan bahwa dana kampanye sebesar itu diperoleh dari beberapa pihak seperti sumbangan kader dan anggota DPR RI utusan pihaknya. “Dari donasi. Rata-rata dari anggota sendiri. Kita kan punya sekitar 22 juta anggota di seluruh tanah air. Begitu juga anggota legislatif kan itu iuran,” kata Suhardi kepada Jurnal Nasional saat dikonfirmasi, Minggu, (2/3).

Suhardi juga mengaku bahwa partainya menganut prinsip keterbukaan dalam mengelola iuran dari anggota maupun simpatisan. Suhardi juga mengaku tidak memberikan tekanan terhadap para kader untuk memberikan bantuan dalam jumlah tertentu bagi partainya. “Kan sudah ada kesepakatan, kader yang mengurus saksi-saksi untuk di tempat pemungutan suara,” lanjut Suhardi.

Jumlah dana kampanye Partai Gerindera sendiri dilaporkan oleh Bendahara Umumnya, Thomas Djiwandono kepada KPU. “Kami telah melaporkan dana kampanye kami. Total dana kampanye kami Rp 306 miliar. Pada tahap pertama kami telah melaporkan dana kampanye Rp 184 miliar dan di tahap kedua ini kami melaporkan Rp 122 miliar,” ujar Bendahara Umum Parta Gerindra, Thomas Djiwandono kepada wartawan di kantor KPU, Minggu (2/3).

Seluruh Partai Politik peserta pemilu 2014 diwajibkan melaporkan dana kampanye paling lambat, Minggu, (2/3). Jika tidak sanksi berat siap menanti mereka. “Bagi peserta pemilu yang terlambat melaporkan, sesuai ketentuan UU 8/2012 terancam dibatalkan sebagai peserta pemilu sesuai tingkatannya,” kata Komisioner KPU Ferry Kurnia Rizkiyansyah, Sabtu, (1/3).

Hingga berita ini diturunkan setidaknya sudah ada 8 partai politik yang melaporkan dana kampanyenya. Diantaranya adalah PDIP Rp 220 miliar, PBB Rp 50 juta, PKB Rp 15,5 miliar, NasDem Rp 139 miliar, PKS Rp 3 miliar, PKPI Rp 1,3 miliar, PAN Rp 170 miliar, Gerindera Rp 306 miliar. (cr7)

Comments

comments