Untuk Bebaskan Satinah, Priyo Siap Potong Gaji

priyo budi santoso

Priyo Budi Santoso

WAKIL Ketua DPR RI, Priyo Budi Santoso mengaku siap dipotong gajinya untuk disisihkan bagi upaya pembebasan TKW asal Indonesia, Satinah. Upaya pembebasan tersebut dilakukan lantaran Sutinah terancam hukum pancung di Arab Saudi beberapa waktu kedepan. “Saya siap dipotong gaji, asalkan untuk upaya membebaskan Sutinah dari hukum pancung,” kata Priyo di kantornya, Kamis, (27/3).

Bahkan dalam kesempatan itu Priyo mengaku tidak keberatan seluruh gaji yang diperoleh dari jabatan sebagai  wakil ketua dpr ri itu seluruhnya disumbangkan untuk membebaskan Satinah. Menurut Priyo, pembebasan Sutinah dari ancaman mata pedang algojo pemerintah Arab Saudi adalah prioritas yang harus diperhatikan semua pihak. “Berapapun jumlahnya, saya tidak masalah,” lanjut Priyo.

Waktu yang tersisa menjelang hari pemancungan bagi Satinah, ujar Priyo pula, harus diefektifkan semua pihak terkait agar upaya yang telah dan sedang dilakukan tidak sia-sia. Seluruh elemen masyarakat juga diharapkan mau melakukan tindakan nyata agar warga negara kita yang mencari nafkah di negeri Arab itu bisa pulang ke kampung halamannya dalam keadaa selamat. “Masih ada waktu sekitar delapan hari lagi, ini semoga bisa dimaksimalkan,” ujar Priyo.

Hanya saja Priyo menyesalkan adanya dugaan kasus hukum pancung terhadap warga negara Indonesia dijadikan sebagai cara untuk melakukan pemerasan. Sebab, untuk urusan ekonomi, tentunya baik pemerintah maupun warga masyarakat Arab tidak ada persoalan. Hal tersebut didasarkan pada tingkat ekonomi mereka yang telah sangat mapan apalagi jika dibandingkan dengan kondisi di tanah air. “Tapi yang terpenting bagaimana negara sekaya Arab Saudi itu jangan terkesan aji mumpung dengan kejadian-kejadian ini,” tegas Priyo.

Terpisah, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku telah melakukan upaya lanjutan agar pelaksanaan hukuman pancung terhadap Satinah bisa ditunda.  Besar harapan upaya pemerintah pusat itu membuahkan  hasil sehingga Satinah bisa tetap menghirup udara segera hingga akhir hayatnya. “Saya sudah teken langsung surat untuk menangguhkan eksekusi hukuman mati pada Satinah binti Jumadi Ahmad, sukur bisa dibebaskan,” ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rapat terbatas di Kantor Presiden, Rabu (26/3).

Diakui presiden surat telah dikirim dengan isi memperpanjang waktu eksekusi. Surat yang dikirim merupakan surat kedua Presiden SBY kepada Raja Arab Saudi dalam kasus Satinah, tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dijatuhi vonis mati oleh Pengadilan Buraidah, Arab Saudi. Rencananya Satinah akan dieksekusi 3 April 2014. Ia dinyatakan terbukti bersalah membunuh dan merampok majikannya, Nura Al Gharib (70).

Peristiwa yang menimpa Satinah terjadi pada 2007 lalu dan vonis mati untuk TKI asal Ungaran, Jawa Tengah, tersebut jatuh pada 2010. Tetapi berkat negosiasi Indonesia, tenggat waktu diperpanjang hingga tiga kali, yaitu Desember 2011, Desember 2012, dan Juni 2013.

Diyat atau uang tebusan untuk perminataan maaf juga terus menurun karena negosiasi. Yang semula diminta oleh keluarga korban sebesar 10 juta riyal selanjutnya menjadi 7,5 juta riyal atau Rp21 miliar. Uang tersebut harus dibayar dalam jangka waktu 1 tahun 2 bulan. Tanggal 3 April mendatang merupakan batas akhir vonis untuk dijalankan.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan pemerintah terus berupaya agar pembayaran uang darah atau diyat itu bisa diperpanjang hingga terjadi kesepakatan perundingan kedua belah pihak.   (cr7).

Comments

comments