Dukungan Terhadap Prabowo Bisa Batal

suharso

Suharso Manoarfa

DUKUNGAN yang diberikan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Suryadharma Ali kepada calon presiden dari Partai Gerindera, Prabowo bisa batal demi hukum. Hal tersebut disebabkan dukungan tersebut tidak diberikan berdasarkan mekanisme resmi dari sebuah partai politik. “Karena tidak mengikuti mekanisme prosedur konstitusional yang ada,” kata Wakil Ketua Umum PPP, Suharso Monoarfa saat dikonfirmasi wartawan, Senin, (21/4).

Selain menilai dukungan terhadap Prabowo yang diberikan Suryadharma Ali tidak sesuai mekanisme partai, Suharso juga menegaskan bahwa hal serupa setidaknya harus dihasilkan pada sebuah musyawarah nasional. Sehingga, dukungan yang hanya didasarkan pada sikap pribadi Suryadharma Ali tidak bisa dibenarkan. “Nanti keputusan Mukernas PPP akan berkoalisi dengan partai mana,” tegas Suharso.

Dengan batalnya dukungan PPP tentu akan berdampak signifikan terhadap rencana Prabowo untuk maju sebagai calon presiden pada pemilu 2014 ini. Bahkan, sangat dimungkinkan Prabowo gagal kembali menjadi pemimpin republik ini.

Hal senada juga disampaikan Pengamat Politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit. Menurut Arbi akan sangat sulit bagi Prabowo mencalonkan diri sebagai calon presiden jika PPP menarik dukungannya. “Ya semakin sulit bagi Prabowo untuk maju sebagai presiden,” kata Pengamat Politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit kepada reportaserepublik saat dihubungi, Minggu, (20/4).

Dengan perolehan suara legislatif pemilu 2014 versi perhitungan cepat atau Quick Count, Arbi lagi-lagi meyakini Prabowo semakin membutuhkan energi ektra besar untuk meloloskan hasratnya menjadi orang nomor satu di republik ini. Sebab, beberapa partai politik “papan tengah” saat ini sudah terlihat memberikan dukunganya kepada calon presiden selain Prabowo. “Sehingga kondisi seperti ini semakin mengharuskan Prabowo harus mendapat dukungan dari partai-partai lainnya,” lanjut Arbi.

Masih kepada reportaserepublik, Arbi juga mengatakan bahwa Prabowo terlihat tidak piawai dalam membaca peta politik internal PPP. Sebab, jika Prabowo benar-benar seorang yang mempunyai kemampuan terbaik tentunya dia tidak akan berada pada posisi sulit seperti saat ini. Dengan kejadian seperti ini, Arbi yakin Prabowo benar-benar telah kecolongan. “Prabowo kecolongan. Suryadharma Ali itu bukan seperti dia yang bisa mendikte partainya hingga tingkat paling bawah. Jadi dua-duanya salah membaca situasi,” ucap Arbi.

Terkait gejolak yang terjadi pada internal PPP, Arbi menegaskan bahwa Suryadharma Ali merupakan pemimpin yang tidak mampu menjalankan sebuah sistem manajemen. Seharusnya, menurut Arbi, Suryadharma Ali melakukan komunikasi terlebih dahulu dengan seluruh bagian pada struktur internal PPP. “Ini metode decision making yang terlalu personal, seharusnya leadership kolegial. Apalagi tingkat kepemipinan Suryadharma Ali tidak lebihi dari teman-teman dia lainnya. Jadi kewibaannya tidak cukup buat bisa mengambil alih keputusan sendri. Tidak ada partisipasi pihak lain,” tegas Arbi.

Arbi menilai, seharusnya Suryadharma Ali terlebih dahulu menggelar rapat pimpinan partainya sebelum memutuskan memberi dukungan terhadap pencapresan Prabowo Subianto. Sehingga, baik kehadirannya saat kampanye Gerindera maupun dukungan yang diberikan terhadap Prabowo tidak ditentang oleh pihak lain di internalnya. “Seharusnya ada rapim dulu yang bisa memutus. Ini rapim ditinggalknanya dia ngaku berhak putuskan sebagai ketua umum dpp, kecuali situasi krisis. Mendesak sekali. Baru bisa ketua umum ambil alih, ini kan enggak ada yang kritis,” jelas Arbi.

Seperti diketahui, pada Minggu, (20/4) di kantor DPP PPP, Menteng, Jakarta Pusat dini hari Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) PPP yang dipimpin Sekertaris Jenderalnya, Muchammad Romahurmuziy memutuskan memberhentikan sementara Suryadharma Ali sebagai ketua umum. “Atas dasar tersebut, Rapimnas I PPP dengan tetap berpegang teguh pada konstitusi AD/ART, mengoreksi sanksi yang diputuskan Rapat Pengurus Harian DPP PPP pada 18 April 2014 dari yang semula ‘Peringatan Pertama’ menjadi ‘Pemberhentian Sementara’ kepada H Suryadharma Ali dari jabatannya selaku Ketua Umum DPP PPP,” kata Romahurmuziy saat membacakan surat keputusan Rapimnas.

Comments

comments