Polri Didesak Tindak Penambang Liar

Tambang Batu Liar II

Batu Hasil Pembangan Liar di Desa Buana Jaya, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

MABES Polri didesak untuk menindak pelaku penambangan batu liar yang ada di seluruh tanah air. Salah satu penambangan liar yang sangat meresahkan masyarakat terjadi di Desa Buana Jaya, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kepala Desa Buana Jaya, Ishak kepada wartawan mengatakan bahwa pihaknya beserta warga akan sangat senang jika ada tim penindak yang datang langsung dari Mabes Polri. Sebab, dari beberapa kali panggilan yang dilakukan oleh sang kepala desa, otak pelaku penambangan batu liar di kawasan tersebut tidak jua membuahkan hasil. “Ya kalau saya dan warga di sini sangat senang jika ada petugas dari pusat yang mau menindak langsung penambangan itu,” kata Ishak, Sabtu, (7/6).

Dijelaskan Ishak pula bahwa penambangan batu yang diotaki oleh seorang warga berinisial A hingga saat ini tidak memiliki izin. Bahkan Ishak sendiri mengaku tidak pernah dimintai pendapat terkait penambangan yang dilakukan oleh A tersebut. “Mana, sampai sekarang belum pernah di minta izin atau sekedar melapor ke saya,” lanjut Ishak.

Dampak dari penambangan liar yang dilakukan oleh A tersebut, menurut Ishak pula, seluruh sawah yang menjadi tulang punggung mata pencarian warga setempat menjadi terancam. Ancaman tersebut semakin kuat jika hujan turun. Karena, air hujan akan langsung menggenangi alias mengakibatkan banjir pada seluruh areal sawah milik warga Desa Buana Jaya. “Saya pernah bicara dengan warga yang bertani, coba bapak-bapak, ada enggak akibat dari pengambilan batu-batu oleh si A itu? Warga langsung jawab pastinya ada. Akibatnya adalah sawah warga pada kebanjiran. Nah kalau sudah banjir yang rugi ya pasti warga setempat juga. Bukan para pekerja apalagi si A yang merupakan otak penambangan itu,” tegas Ishak.

Menurut Ishak pula, bahwa A bukanlah warga asli Desa Buana Jaya. Bahkan Ishak menduga A merupakan aktor tindak pidana yang kasusnya ditangani oleh Kepolisian wilayah Tanggerang. “Si A itu bukan asli orang sini. Cuma sama saya, ketika saya jadi kades, saya bikinin KTP. Tujuan saya supaya dia mau lebih baik. Eh enggak tahunya malah terus aja berbuat yang merugikan warga disini. Denger-denger sih dia itu DPO dari Tanggerang,” jelas Ishak.

Di lokasi penambangan ditemukan beberapa truk bak pengangkut beroda 6 hilir mudik mengangkut batu-batu hasil penambangan liar tersebut. Dalam waktu tidak lebih dari 40 menit setidaknya ada 3 truk yang membawa batu-batu tersebut keluar dari lokasi penambangan.

Seorang supir truk yang tidak mau disebutkan identitasnya mengaku bahwa batu yang dibawanya itu laku terjual dengan harga Rp 240 ribu setiap truknya. Sedangkan sang supir mengaku mendapatkan upah sebesar Rp 30 ribu. Sedangkan satu atau dua orang tenaga pengangkut yang ikut serta dalam masing-masing truk juga mendapatkan imbalan dengan jumlah sama. “Ya kalau saya dapat tiga pulu rebu. Sama kalau tukang angkut juga sama,” kata sang Supir.

Saat ditemui di lokasi penambangan, A mengaku bahwa usaha liarnya itu hanya sampingan belaka. Menurut A dirinya mempunyai pekerjaan utama berupa bertani. A juga mengaku belum pernah ditegur atau diperingatkan oleh seluruh aparat penegak hukum yang ada di daerah tersebut, termasuk perangkat desa. “Enggak, sampai sekarang belum pernah di larang atau dikasih tahu untuk berhenti,” kata A.   (cr7).

Comments

comments