Gajah RAPP Fokus Tangani Konflik dengan Warga

Gajah Sumatera

Gajah Sumatera

PEMBUKAAN hutan belakangan ini harus diakui berdampak pada ekosistem yang ada, salah satunya adalah berkurngannya habitat penguhuni hutan seperti gajah. Untuk itulah PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) melatih sejumlah gajah-gajah agar konflik  yang terjadi antara hewan-hewan tersebut dengan warga masyarakat bisa ditanggulangi. “Kami bahkan telah memiliki anak gajah yang lahir di Pusat Pelatihan Gajah perusahaan di Ukui Riau,” kata Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Kusnan Rahmin dalam siaran pers yang diterima, Kamis, (17/7).

Saat ini, lanjut Kusnan, pihaknya telah memiliki 6 ekor gajah-gajah yang terlatih dalam tim Elephant Flying Squad (EFS). Tim ini bertugas berpatroli guna memitigasi konflik, mendata gajah liar, sosialisasi perlindungan satwa liar kepada masyarakat, dan mencegah perburuan satwa liar.  ”Tim Patroli yang terdiri dari pawang terlatih, tenaga medis, dan gajah jinak dilengkapi peralatan pendukung untuk mengoptimalkan tugas,” lanjut Kusnan.

Dikatakan Kusnan pula bahwa RAPP telah bekerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Riau dan Yayasan Pelestarian Alam dan Satwa (PALS) yang merupakan mitra lembaga konservasi dunia Wildlife Conservation Society (WCS) untuk memberi pelatihan mitigasi konflik manusia dengan satwa liar kepada masyarakat dan staf operasional RAPP.  ”Untuk mendukung mitigasi konflik ini, kami juga telah membentuk Lembaga Konservasi Desa,” imbuhnya.

Menurut Kusnan, RAPP telah memiliki protokol mitigasi konflik satwa liar dengan manusia sehingga pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas staf RAPP, mencari informasi terbaru dari para ilmuwan/pakar serta berbagi pengalaman tentang penanganan konflik.  Pihaknya menerapkan praktik terbaik pengelolaan hutan lestari yang memisahkan areal yang berfungsi untuk konservasi dengan mengacu pada kajian hutan bernilai konservasi tinggi (high conservation value forest).  “Perusahaan melindungi hutan alam koridor lintasan satwa dan mengembangkan pola penanaman mosaik untuk menjaga wilayah jelajah satwa liar serta membatasi gerak pemburu liar di kawasan hutan yang tidak dikelola,” katanya.

Sebelumnya organisasi swadaya masyarakat di Provinsi Riau mengatakan bahwa konflik gajah dengan manusia selama tahun 2013 telah menimbulkan kerugian materi sebesar Rp 1,99 miliar. Konflik itu sendiri kerap terjadi pada desa-desa yang lokasinya berdekatan dengan Taman Nasional Tesso Nillo (TNTN).

Untuk menanggulangi berbagai dampak yang timbul akibat konflik tersebut, organisasi swadaya masyarakat tersebut telah menjalin kerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau dan Balai TNTN. Salah satu langkah yang telah dilakukan untuk maksud tersebut adalah dengan menggunakan gajah pengusir. Langkah tersebut telah berlangsung sejak tahun 2014 ini.

Upaya ini dilakukan dengan memberdayakan gajah latih untuk mengusir dan menggiring gajah liar kembali kehabitatnya di kawasan hutan. Tim ini telah ditempatkan di kawasan rawan konflik seperti di Desa Lubuk Kembang Bunga, yang merupakan pedesaan berbatasan langsung dengan TNTN.

Comments

comments