Pengelolaan Hutan Untuk Kemandirian Bangsa

Hutan Indonesia

Hutan Indonesia

HUTAN yang dimiliki oleh bangsa ini harus dikelola dengan maksimal agar memberikan manfaat sebesarnya bagi masyarakat. Dengan pemanfaatan hutan secara maksimal, kemandirian bangsa dalam banyak hal diyakini akan lebih cepat terwujud. “Hutan harus dimanfaatkan melalui izin-izin yang telah ditetapkan. Selain itu pemanfaatan juga dengan sistem kemitraan agar memberikan manfaat semaksimal mungkin. Agar kemandirian bangsa bisa segera terwujud,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Ibnu Multazam  saat dihubungi, Jumat, (15/8).

Warga masyarakat bangsa ini yang sehari-hari menetap disekitar wilayah hutan, lanjut Multazam, juga dihimbau untuk lebih giat lagi memanfaatkan wilayah hutan untuk peningkatan kesejahteraannya. Tentunya, menurut Multazam, pengelolaan tersebut harus mengacu pada ketentua yang ditetapkan oleh pemerintah, dan bukan dari negara lain. “Tentunya peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan kan sudah ada yang mengatur tentang tata cara pengelolaan hutan. Peraturan yang dibuat oleh bangsa ini tentu sudah pada porsi yang tepat untuk mewakili kepentingan semua lapisan warga masyarakat bangsa ini. Bukan mengedepankan kepentingan asing,” lanjut Multazam.

Kepada pemerintah, Multazam juga berharap agar lebih giat lagi memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola lahan-lahan yang selama ini tidak produktif. Pengelolaan lahan-lahan nganggur oleh masyarakat dinilai Multazam akan memberikan manfaat yang sangat besar. “Agar pemerintah segera mengaktifkan lahan-lahan yang selama ini masih tidur untu difungsikan, baik itu lahan hutan untuk produksi terbatas, maupun hutan produksi untuk perkebunan atau untuk tanaman lainnya,” ujar Multazam.

Multazam mengakui ada kritikan dari Lembaga Swadaya Asing (LSM) terkait pengelolaan hutan di tanah air. Namun, kritikan itu bukan berarti sebagai alasan untuk menghentikan pengelolaan hutan itu sendiri. Justeru dengan pengelolaan yang sesuai aturan tentunya hutan milik bumi pertiwi ini akan memberikan peluang kesejahteraan sangat besar bagi bangsa dan negara. “Terhadap kritikan itu, makanya kita kelola hutan kita dengan baik dengan cara kita kelola secara benar. Tidak kita terlantarkan hutan agar bisa berproduksi secara maksimal untuk kemakmuran bangsa kita,” tegas Multazam.

Terpisah, Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Revitalisasi Industri Kehutanan, Bedjo Santoso sebelumnya mengatakan bahwa pengelolaan hutan, di tanah air jangan terganggu oleh kampanye hitam LSM Asing. “Jadi jangan karena kampanye LSM seperti Greenpeace, kita goyah. Pembangunan hutan tanaman ini penting mencegah Indonesia masuk ke dalam krisis,” kata Staf Ahli Menteri Kehutanan bidang Revitalisasi Industri Kehutanan, Bedjo Santoso usai membuka diskusi “Sumber Daya Hutan untuk Energi Terbarukan” di Jakarta, Selasa (12/8).

Dalam kesempatan itu Bedjo juga mengatakan bahwa negara ini perlu terus mengembangkan hutan tanaman. Sebab, dengan cara itu pemenuhan terhadap kebutuhan bahan baku kayu akan terpenuhi dan ketahanan energi itu sendiri juga tercapai. “Pengembangam hutan tanaman penting untuk ketahanan nasional,” lanjut Bedjo.

Hutan tanaman sendiri, katanya, disiapkan sebagai sumber bahan baku kayu industri kehutanan yang berkelanjutan. Pada saat yang sama, hutan tanaman juga bisa ditanami pohon penghasil energi baik dari jenis penghasil minyak nabati seperti nyamplung dan bintaro, maupun penghasil biomassa seperti kaliandra. Saat ini, katanya pula,  Kementerian Kehutanan telah menerbitkan izin pengelolaan hutan tanaman industri seluas 10,3 juta hektare.

Anggota Dewan Energi Nasional, Syamsir Abduh mengungkapkan 94,3% energi nasional dipasok dari bahan bakar fosil dengan 49,7% diantaranya adalah BBM. Indonesia memghabiskan lebih dari Rp300 Triliun tahun ini untuk menyediakan subsidi BBM. “Hanya 5,7% energi kita yang bersumber dari energi terbarukan. Ke depan penggunaan energi terbarukan harus terus kita tingkatkan,” katanya.

Pemanfaatan energi berbasis fosil juga tidak ramah lingkungan karena mengemisi gas rumah kaca. “Sebaliknya jika memanfaatkan energi dari hutan misalnya, justru sangat ramah lingkungan. Selain merehabilitasi lahan kritis juga menyerap gas rumah kaca,” katanya.   (cr7).

Comments

comments