Perpres 36/2010 Mungkinkan Pabrik Gula Tidak Kelola Kebun Tebu

Kebun Tebu

Kebun Tebu

PERATURAN Presiden yang ada hingga saat ini memungkinkan pabrik gula dalam negeri tidak memiliki dan mengelola kebun tebu sebagai sumber bahan baku. Akibatnya pabrik gula dalam negeri masih dimungkinkan mengimpor bahan baku dari luar negeri. “Sehingga pabrik gula rafinasi yang izinnya dikeluarkan sebelum terbitnya Perpres tersebut (tgl 25 Mei 2010) tidak ada kewajiban untuk membangun pekebunan tebu,” kata Menteri Perindustrian RI,  Saleh Husin dalam pesan elektronik yang dikirimkan pada Kamis, (20/11).

Menurut Saleh kemudahan tersebut memang tertuang dalam peraturan presiden nomor 36 tahun 2010 tentang daftar bidang udaha yang tertutup dan terbuka di bidang penanaman modal. “Sebelum ada Perpres No. 36 tahun 2010 tentang daftar bidang Usaha yang Tertutup dan Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal, izin investasi di bidang industri gula belum dipersyaratkan tepadu dengan perkebunan tebu,” lanjut Saleh.

Sebelumnya Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Ibnu Multazam mengatakan bahwa swasembada gula terbentur pada perizinan yang memungkinkan pabrik gula untuk tidak memiliki dan mengelola kebun tebu milik sendiri. “Kendalanya ada di izin bagi pabrik-pabrik besar melakukan impor raw sugar,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Ibnu Multazam di kantornya, Rabu, (19/11).

Sekitar 12 perusahaan produsen gula berskala besar itu, lanjut Multazam, dinilai cenderung membeli bahan baku gula dari luar negeri. Akibatnya gula yang dihasilkan dari tebu petani tidak “dilirik” oleh para produsen itu sendiri. Sehingga swasembada gula dalam negeri tidak akan pernah terwujud. “Selama regulasi itu ada dan berlaku, mana mungkin kita swasembada gula. Petani teriak adalah sesuatu yang wajar, karena pengusaha kan pengen cepet untung. Mending mereka beli dari luar negeri,” tegas Multazam.

Seharusnya, menurut Multazam, setiap produsen gula mempunyai kebun tebu terlebih dahulu sebelum izin produksi dikeluarkan. Dengan demikian, para produsen itu akan menggunakan hasil kebun tebu mereka sebagai bahan baku produksi gula. “Harusnya suatu perushaan diberi izin setelah membuat kebun tebu terlebih dahulu. Sehingga bisa dipasgtikan produsen itu mengolah bahan baku dari kebunnya sendiri, bukan hasil kebun tebu dari Australia, Thailand. Makanya wajar petani menjerit,” ujar Multazam.   (cr7).

Comments

comments