Agun: Ada yang Paksa Kehendak di DPR RI

Agun Gunanjar Sudarsa

Agun Gunanjar Sudarsa.

KETUA DPP Partai Golkar kubu Agung Laksono, Agun Gunandjar Sudarsa mengatakan ada satu kelompok di DPR RI yang memaksakan kehendaknya terhadap Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) melalui Komisi II. “Ada pemaksaan kehendak Komisi II terhadap Peraturan KPU, dengan merencanakan revisi UU Parpol dan UU Pilkada akibat tidak tunduknya KPU,” kata Agun di Jakarta, Selasa, (5/5).

Kata Agun, KPU melalui draf Peraturan KPU mensyaratkan parpol bersengketa di pengadilan harus sudah memiliki kekuatan hukum tetap atau sudah islah sebelum pendaftaran Pilkada. Namun, DPR malah meminta KPU menyertakan putusan sementara pengadilan sebagai syarat mengikuti pilkada. KPU menolak permintaan tersebut, karena tidak ada payung hukum yang mengatur atas hal itu. Akhirnya, DPR sepakat merevisi UU Parpol dan UU Pilkada untuk menciptakan payung hukum baru.

Dalam kesempatan itu Agun menilai, pemaksaan kehendak itu merupakan wujud arogansi DPR yang sudah berlangsung sejak beberapa waktu belakangan. “Bentuk arogansi tersebut antara lain berawal dari pemaksaan pemilihan pimpinan dewan, pembentukan alat-alat kelengkapan dewan, serta perubahan UU MD3 dengan menambahkan keputusan komisi bersifat mengikat, tanpa mengindahkan UUD dan UU lainnya,” katanya.

Arogansi kekuasaan, katanya lagi, juga terlihat dari upaya DPR mengatur agenda paripurna sesuai kemauannya, memindahkan anggota tanpa menanyakan kedaulatan anggota yang dipilih langsung oleh rakyat, hingga mengalokasikan penambahan anggaran Rp1,7 triliun dalam APBNP 2015, tanpa memikirkan kebutuhan rakyat yang lebih membutuhkan.

Agun menilai semua itu adalah fakta arogansi kekuasaan yang diputuskan sepihak dengan mengabaikan aspirasi anggota dan fraksi lain di DPR. Salah satu kelompok di DPR dinilai mengabaikan azas dan prinsip demokrasi dengan tidak menghargai dan menghormati serta menerima perbedaan.

“Mereka memaksakan kehendak berdasarkan suara semata, seperti yang dipertontonkan kepada publik selama ini. Arogansi kekuasaan harus segera dihentikan, kedepankan semangat kebersamaan dengan mengacu pada nilai-nilai objektivitas, kejujuran dan kehendak rakyat yang diwakilinya,” jelas Agun.   {007}.

Comments

comments