Sekolah Lima Hari Mematikan Kreatifitas Siswa

Yogyo Susaptoyono

Yogyo Susaptoyono

SURAT Edaran (SE) Gubernur Jateng nomor 420/006752/2015 menerapkan kebijakan lima hari kerja untuk kegiatan sekolah dikawatirkan akan mematikan kreatifitas siswa karena beban pelajaran harian menjadi lebih berat. Bagi siswa, jam pelajaran lebih panjang tentunya akan mengurangi waktu mereka untuk kegiatan meningkatan kretaifitas yang selama ini diwadahi oleh sekolah dalam kegiatan-kegiatan ektra kulikuler.

Kalau selama ini jam pelajaran mereka selesai pada pukul 13.00, waktu sore hari mereka gunakan untuk mengisi kegiatan sesuai hobi mereka. “Beban pelajaran yang berat tanpa diimbangi dengan kegiatan yang menyenangkan bagi para siswa itu sendiri tentunya jelas kontrapoduktif dengan tujuan mereka belajar sehari-hari. Bisa dipastikan akan muncul kejenuhan dan semangat belajar yang menurun bagi para siswa,” kata Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Yogyo Susaptoyono dalam siaran pers yang diterima, Kamis, (6/8).

Menurut Yogyo, Bertambahnya waktu belajar di sekolah dengan materi yang padat bisa membuat siswa dan guru kecapaian dan jenuh sehinga proses belajar dan mengajar tidak berjalan secara maksimal. Selain itu konsentrasi dan daya serap siswa tentunya juga akan menurun.

Selaian itu, jam sekolah yang panjang tentunya memerlukan stamina dan energi yang lebih bagi para siswa. Selama ini sekolah enam hari dengan waktu yang tersedia belajar di sekolah, pada malam hari masih tersisa energi pada para siswa untuk belajar di rumah. Dengan waktu belajar di  sekolah yang panjang, tentunya pada malam hari mereka sudah merasa lelah.

Dia juga negatakan, kesiapan sarana dan prasarana di sekolah juga belum semuanya memadai. Jam sekolah samapai sore, akhirnya sholat dhuhur dan Ashar juga dilaksanakan di sekolah. Tidak semua sekolah sudah mempunyai tempat ibadah representative yang menampung mereka melakukan sholat secara bersama-sama karena waktu istirahat yang pendek.

Bagi orang tua, tentunya menimbulkan beban ekonomi yang lebih. Dengan jam sekolah yang panjang  sampai sore, secara otomatis siswa harus makan siang di sekolah. Sehinga siswa membutuhkan uang saku yang lebih karena harus mengeluarkan ongkos untuk  makan siang.

Di sisi lain,  tempat-tempat kursus dan dan taman pendidikan Alquran terancam keberadaannya karena waktu belajar para siswa  setiap harinya sudah habis di sekolah. Padahal pendidikan non formal di luar sekolah itu sangatlah penting keberadaanya.

“Pendidikan non formal, semacam taman pendidikan Alquran selama ini sudah berjalan sebagai pelengkap pelajaran yang  belum di dapatkan di sekolah. Jangan sampai taman pendidikan Al-quran kehilangan siswa, karena di situ ruang pendidikan karakter yang berakhlak mulia. Bangsa ini harus dibangun dari generai muda yang sejak kecil mendapatkan pelajaran budipekerti,” tegas Yogyo.   {007}.

Comments

comments