Menteri Marwan Dinilai Tidak Memahami Profesionalisme

Achmad Hafisz Tohir

Achmad Hafisz Tohir.

KETUA Komisi VI DPR RI, Achmad Hafisz Tohir mengatakan bahwa Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Ja’far tidak memahami arti sebuah profesionalisme. Hal tersebut dikatakan Hafisz menanggapi sikap Marwan yang mengeluh ketika ditinggal pesawat Garuda Indonesia kemarin. “Dia tidak memahami prefesionalisme. Dia enggak profesional,” kata Hafisz di DPR RI, Kamis, (25/2).

Bahkan, dalam kesempatan itu Hafisz juga mengatakan bahwa sikap yang ditunjukkan oleh sang menteri tersebut tidak sesuai dengan semangat pemerintahan saat ini. Seharusnya sang menteri harus benar-benar menjalankan tugas berdasar pada perintah presiden. “Nawacita-nya jauhlah,” lanjut Hafisz.

Padahal, sambung Hafisz lagi sang menteri pernah menjadi anggota komisi V DPR RI yang salah satunya membidangi dunia transportasi termasuk penerbangan. “Seharusnya lebih paham. Apalagi dia pernah jadi anggota Komisi V DPR RI,” sambung Hafisz.

Apalagi, Hafisz menegaskan bahwa dalam konteks tersebut yang tidak tepat waktu adalah sang menteri sebagai penumpang. “Yang salah yang terlambat. Garuda kan harus kita didik untuk profesional, menguntungkan negara, supaya duitnya untuk kesejahteraan rakyat. Kalau Garuda diperlakukan semena-mena gitu, dia akan lepas profesionalnya,” ujarnya.

Sebab, jika Garuda Indonesia menunda keberangkatan, ujarnya lagi, tentu ada puluhan juta rupiah biaya tambahan yang harus dikeluarkan. “Setiap 55 detik terjadi satu short trip penerbangan dan satu short trip pendaratan. Ketika dia minta, ‘Ok pak kami tidak jadi take off jam sekian, karena kami harus menunggu 5 menit lagi’. Itu akibatnya bisa 20 menit kemudian pesawat itu baru bisa terbang. 20 menit engine pesawat hidup itu bisa Rp50 juta costnya,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Marwan marah-marah karena ditinggal terbang oleh pesawat Garuda. Jadwal terbang jam 08.05 dari Soekarno Hatta, tapi Menteri Marwan baru muncul jam 08.00 WIB. Akibatnya, politisi PKB itu ditinggal. Karena ditinggal, Marwan minta Menteri BUMN untuk mengganti direksi Garuda.

Sayangnya, telepon seluler Marwan tidak bisa dihubungi untuk dikonfirmasi meski sudah dua kali dihubungi. {007}.

Comments

comments