Ternyata,,, Mahasiswa PTIK Mahir Bermain Ludruk

PTIK Ludruk

Mahasiswa STIK-PTIK Perankan Tokoh Dalam Pentas Ludruk di Gedung Wayang Orang Bharata, Jakarta, Jumat, (11/3).

DIBALIK wajah tegas seorang anggota Polri, ternyata mereka masih menyimpan jiwa seni yang sangat tinggi. Hal tersebut dibuktikan ketika sejumlah Mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Angkatan ke 69 memerankan beberapa tokoh pada pagelaran Ludruk dengan cerita “Sawunggaling, Satria Brang Wetan” di Gedung Wayang Orang Bharata, Jakarta Pusat, Jumat, (11/3) malam.

Bahkan, dalam pementasan tersebut sekitar 15 orang Mahasiswa PTIK itu terlihat tidak canggung sama sekali ketika melakonkan skenario karya Aries Mukadi. Padahal, pada pementasan tersebut sejumlah aktor ludruk terkenal di republik ini turut pula berperan, seperti Tessy, Kirun dan masih banyak lainnya.

Dosen PTIK, Yundini Husni Erwin saat dihubungi mengatakan bahwa tidak bisa dipungkiri seluruh mahasiswa yang ada di lembaga pendidikan tersebut menyadari bahwa seni budaya republik ini sangatlah tinggi nilainya. Dengan menguasai budaya suatu daerah, katanya, para mahasiswa yang merupakan perwira Polri itu yakin akan mempermudah ketika terjun ke tengah-tengah masyarakat.

“Sebenarnya tidak hanya 15 orang yang mau ikut pementasan itu, sebenarnya semuanya mau ikut, tapi kan ada keterbatasan. Karena mahasiswa-mahasiswa ini sangat sadar bahwa melalui pendekatan budaya mereka akan semakin mudah untuk masuk ke masyarakat. Apalagi mereka sadar betapa tingginya nilai budaya kita,” kata Yundini, Sabtu, (12/3).

“Sebagai dosen mereka, saya bangga dengan sikap yang mereka tunjukkan itu. Ini suda dua kali kami laksanakan,” sambung Yundini.

Padahal, lanjut Yundini, para perwira Polri itu berasal dari berbagai suku di republik ini. Tentunya faktor penguasaan bahasa merupakan tantangan yang harus ditaklukan oleh masing-masing mahasiswa dalam pementasan tersebut. “Ya tidak bisa dipungkiri. Mereka ini kan bukan suku Jawa semua. Ada dari suku Batak, Sulawesi Selatan, ada dari Nias dan daerah lain di Indonesia. Ya mau tidak mau mereka harus belajar dengan keras agar mampu mengucapkan dialog dalam bahasa Jawa itu dengan baik dan benar,” ujar Yundini.

PTIK Ludruk

Ketua Mahasiswa Angkatan ke 69 STIK-PTIK, AKP David Yunior Kantero membenarkan bahwa melalui penguasaan budaya bangsa akan memudahkannya beserta seluruh mahasiswa ketika bertemu masyarakat di seluruh pelosok negeri ini. “Dalam mendekati masyarakat kita tidak hanya fokus pada pelaksanaan tugas. Tapi kita bisa melebur melalui budaya suatu suku di masing-masing wilayah. Salah satunya melalui seni ludruk, ketoprak atau budaya masing-masing daerah,” kata David saat dihubungi, Sabtu, (12/3).

Melalui pementasan itu pula, lanjud David, pihaknya kembali memahami peran bahasa daerah dalam berhubungan masyarakat. Untuk itu, David mengakui bahwa pihaknya benar-benar berusaha untuk memahami setiap dialog yang ada dalam skenario pementasan Ludruk tersebut. “Bahasa memang jadi kesulitan, karenanya kita mencari tahu, kita tanya ke teman-teman yang orang Jawa, apa arti dan makna dalam dialog yang ada. Sehingga kita bisa improvisasi peran masing-masing,” ujar David.

“Dengan turut memerankan tokok-tokoh dalam Ludruk itu, kami bisa merasakan nilai-nilai budaya Indonesia yang sangat tinggi nilainya itu. Apalagi dalam cerita tadi malam, itu kan mengisahkan perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajah Belanda,” sambung David.   {007}.

Comments

comments