“Samba Itam” Sulit Air Masuk Rekor MURI

Samba Itam Sulik Air

Demo Masak Samba Itam di Nagari Sulit Air, Solok, Sumatera Barat, Sabtu, (30/4).

MUSIUM Rekok Indonesia (MURI) memberikan penghargaan atas terselenggaranya memasak “Samba Itam” secara massal oleh masyarakat Kanagarian Sulik Air, Kabupaten Solok, Sumater Barat pada Sabtu, (30/4).

Samba Itam sendiri merupakan masakan khas Nagari Sulit Air. Wujud Samba Itam sendiri hampir sama dengan masakan gulai yang bersantan dan dimasak bersama sayur serta ikan maupun daging, sesuai selera masing-masing. Disebut Samba Itam (laur hitam) lantaran dicampur dengan bunga pohon Galundi yang hanya ada di Sulit Air.

Budi Satria, rakyat setempat menceritakan, bahwa awalnya masakan itu karena masyarakat Sulit Air terisolir dari Kerajaan Pagaruyung.

Masyarakat yang sejarahnya pernah melakukan kudeta dibuang ke Nagari yang disebut Sulit Air tersebut. Masakan itu tercipta karena sulitnya bahan baku, sehingga mereka bertemu pohon Galundi dan ternyata dapat dijadikan bahan makanan untuk dimakan. Sampai sekarang menjadi khas yang satu-satunya didunia.

Pemda Solok dan Nagari Sulit Air membuat acara masakan Samba Itam dalam rangka menyambut hari jadi Nagari Sulit Air ke-195 tahun dan bersamaan dengan acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI.

Oesman Sapta Odang13

Oesman Sapta Odang (kiri).

Ini pertama kali Nagari yang jaraknya lebih kurang 100  Km dari ibukota Sumatera Barat, Padang didatangi oleh Pimpinan MPR RI, Oesman Sapta Odang (OSO) dan Sekjen MPR RI.

Rekor Muri untuk masakan Samba Itam sebanyak 670 tungku itu sendiri diberikan diserahkan oleh perwakilan Rekor Muri Indonesia.

Oesman Sapta Odang yang bergelar Datuk Bandaro Sutan Nan Kayo, dalam adat Minang Kabau, mengatakan hari ini hari kebangkitan rakyat Nagari Sulit Air. “Acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang diselenggarakan di daerah ini bukan untuk kepentingan politik, tetapi kepentingan bangsa agar empat pilar masuk ke dalam hati nurani rakyat, ” kata OSO di Sulit Air, Sabtu, (30/4).   {007}

Comments

comments