Pengurusan Bahan Pangan Pokok Tidak Fokus

Viva Yoga Mauladi

Viva Yoga Mauladi.

WAKIL Ketua Komisi IV DPR RI, Viva Yoga Mauladi menegaskan bahwa pengurusan bahan pangan rakyat tidak dilakukan dengan maksimal. Sehingga tidak heran jika harga bahan kebutuhan pokok rakyat kerap mengalami lonjakan yang tidak terkendali. “Yang diurus itu (pangan) tidak fokus,” kata Viva di DPR RI, Selasa, (7/6). Penegasan tersebut disampaikan Viva menyikapi lonjakan harga bahan kebutuhan pokok yang kerap terjadi beberapa tahun belakangan ini.

Sebagai contoh, lonjakan harga daging sapi yang hingga kini hanya mampu ditanggulangi pemerintah melalui operasi pasar. Menurut Viva, lonjakan tersebut terjadi lantaran pemerintah tidak siap menyikapi lonjakan jumlah penduduk terhadap persediaan bahan pangan termasuk daging sapi. “Ini kan terjadi penambahan jumlah penduduk. Nah kalau jumlah penduduk meningkat sudah barang tentu kebutuhan daging sapi pasti meningkat. Sedangkan pemerintah itu tidak punya sapi-sapi yang siap disembelih. Sapi yang selama ini dikatakan ada itu milik rakyat,” kata Viva lagi.

Ruang Iklan

Dengan kondisi itu, sambung Viva, pemerintah tidak akan mampu menyediakan daging sapi setiap saat. Dan akhirnya, lagi-lagi jalan impor adalah solusi paling ampuh yang harus ditempuh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan daging sapi. “95 persen sapi itu milik rakyat. Bagi rakyat sapi itu hanya sekedar untuk menabung, agendanya tidak tergantung kebijakan pemerintah. Mereka hanya menjual sapi ketika ada kebutuhan seperti menikahkan anak, biaya sekolah anaknya. Jadi pemerintah tidak bisa serta-merta memiliki sapi milik rakyat semau-maunya,” sambung Viva.

Untuk itu, Viva mendesak agar membangun apa yang dikenal dengan sebutan Food Estate. Food Estate itu diharapkan Viva dibangun pemerintah pada setiap daerah. Sehingga, persoalan ketersediaan bahan kebutuan pokok rakyat bisa segera diatasi secara menyeluruh. “Segera bangun food estate di seluruh daerah. Dengan cara itu mendekatkan sentra produksi bahan pangan dengan konsumennya. Seperti daging, 60 persen itu kan kebutuhannya ada di jabodetabek. Nah bisa dibangun di Banten, Jawa Barat atau Lampung,” katanya.   {007}.

Ruang Iklan

Comments

comments