Ketua DPR RI: Parah Sekali,,, Cangkul saja Impor

Ade Komarudin

Ade Komarudin.

KETUA DPR RI, Ade Komarudin (Akom) menegaskan bahwa impor cangkul dari Cina yang dilakukan oleh salah satu Badan Usah Milik Negara (BUMN) merupakan perbuatan tidak sepantasnya. “Parah sekali (cangkul diimpor),” kata Ade di DPR RI, Senin, (31/10).

Seharusnya, lanjut Akom, pemerintah republik ini mendahulukan cangkul produk dalam negeri untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Apalagi, cangkul merupakan alat pertanian yang sudah sangat lama diproduksi oleh para pengrajin besi di negara ini. “Seharusnya bikin sendiri,” lanjut Akom.

Bahkan dalam kesempatan itu Akom juga mempertanyakan kemampuan bangsa ini, sehingga pemerintah melalui BUMN harus mengimpor cangkul dari Cina. “Masak bikin cangkul saja tidak bisa?” tanya Akom.

Anggota Komisi VI DPR RI, Sartono juga memberikan komentar senada terkait impor cangkul dari Cina tersebut. Menurutnya impor tersebut merupakan perbuatan yang tidak tepat. “Ngawur itu. Masa cangkul saja harus impor, memangnya kita tidak bisa bikin,” kata Sartono saat dihubungi, Minggu, (30/10).

Ruang Iklan

Menurut Sartono, seharusnya pemerintah memenuhi kebutuhan cangkul untuk alat pertanian dari produksi dalam negeri saja. Dengan demikian, penghasilan para pandai besi republik ini bisa lebih terangkat. “Seharusnya kalau cangkul saja, diberdayakan produksi pengrajin-pengrajin kita saja. Kan ada manfaat yang bisa diterima oleh para pengrajin kita,” tegas Sartono.

Anggota Komisi IV DPR RI, Ibnu Multazam mempertanyakan logika bisnis yang dipakai salah satu BUMN dalam mengimpor cangkul. Cangkul merupakan alat pertanian yang sudah sangat lama diproduksi oleh pengrajin lokal selama puluhan bahkan ratusan tahun lalu. “BUMN melakukan itu pertimbangan bisnisnya apa? Gak masuk akal,” kata Multazam saat dihubungi, Jumat, (28/10).

Prilaku salah satu BUMN yang melakukan impor tersebut, lanjut Multazam, jelas-jelas telah menghancurkan pasar cangkul produksi dalam negeri. Apalagi, konsumen cangkul di republik ini telah semakin berkurang seiring digunakannya traktor tangan oleh sebagian petani kita. “Perusahan cangkul dalam negeri antara mati dan hidup, kenapa tidak diberdayakan,” lanjut Multazam.

“Itu bodoh sekali. Yang impor itu kalau betul BUMN ya bodoh sekali. Dia tidak perduli pada pengrajin cangkul tanah air yang beterbaran itu. Itu kan alat tradisional bertani,” sambung Multazam.   {007}.

Ruang Iklan

Comments

comments