UU Persaingan Usaha Tahun 99 Mendesak Dirubah

Azam Azman Natawijana

Azam Azman Natawijana.

WAKIL Ketua Komisi VI DPR RI, Azam Azman Natawijana menegaskan bahwa undang-undang nomor 5 tahun 1999 sudah mendesak untuk dirubah. Hal tersebut dipandangnya perlu lantaran perkembangan teknologi yang menjadikan persaingan usaha semakin tidak sehat dan merugikan konsumen.

“Menghadapi kondisi demikian komisi VI memandang perlu adanya penyempurnaan. Perlu dilakukan perubahan. Bukan hanya amanademen. Tapi yang luar biasa, yang penting. Komisi VI memandang perlu dirubah agar bisnis di Indonesia bisa menjadi lebih baik,” tegas Azam di DPR RI, Selasa, (18/4).

“Namun seiring waktu dan perkembngan ekonomi bangsa Indoneia terjadi perubahan yang luar biasa dengan terjadinya kemajuan tekonolgi dengan era IT semakin cepat, ini pola ini makin canggih. Dengan demikian membuat instrumen hukum semakin tertinggal. Semakin tidak bia mengikuti perkembangan bisnis di Indonesia. Sehingga menjadi sulit bagi KPPU pantau prilaku tersebut, menjadi menjadi. Sejak tahun 99 sampai sekarang undang-undang yang tertinggal ini makin tertinggal. Sehingga pelaku usaha pesaing yang tidak sehat makin tidak mudah dijangkau,” lanjutnya.

Ruang Iklan

Menurut Azam, jika persaingan usaha berjalan dengan sehat, maka keuntungan terbesar agar dirasakan oleh masyarakat. Sebab, persaingan sehat itu sendiri akan menghadirkan efisiensi dalam hal produk maupun jasa yang dihasilkan. “Dengan iklim persaiangan usaha semakin sehat memaksa pelaku usaha tingkatkan efisiensi,” ujar Azam.

Sebaliknya, sambung Azam, semakin tidak sehatnya persaiangan usaha, rakyatlah pihak yang awal merasakan dampak negatifnya. “Sebab jika tidak ada persaingan maka efisiensi menjadi rendah. Pada ujungnya yang dirugikan adalah masyarkat banyak, masyarakat yang memakai usaha-usaha itu,” sambung Azam.

Pakar Ekonomi, Ichsanuddin Noorsy mengatakan bahwa pembahasan perubahan undang-undang anti monopoli tidak bisa jika hanya dibicarakan tingkat dalam negeri semata. “Pembicaraan persaiangan usaha tidak mungkin level domestik. Anda harus bicara dalam level regional dan internasional,” kata Noorsy.   {007}.

Ruang Iklan

Comments

comments