Kesenjangan Ekonomi Merupakan Salah Satu Catatan MPR RI

Zulkifli Hasan.

KETUA MPR RI, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa kesenjangan ekonomi yang terjadi di republik saat ini merupakan salah satu catatan penting dan harus dicarikan jalan keluarnya.

“Ada catatan kami di MPR ini yang perlu kita diskusikan dan dicarikan jalan keluarnya. Yang pertama, yang ditemukan adalah masalah kesenjangan antar individu, kesenjangan ekonomi,” tegas Zulkifli Hasan di kantornya, Senin, (11/12).

Bahkan, lanjut Zulkifli Hasan, kesenjangan tidak hanya terjadi di satu atau beberapa wilayah saja. Antara pusat dan daerah, menurutnya, juga telah terjadi kesenjangan tersebut.

“Juga kesenjangan pusat dan daerah. Baru-baru ini kami ke Tanjung Pinang, Maluku, Bolaan Mangondo. Maluku dan Tanjung Pinang bertanya, Pak kita kan NKRI, tapi kenapa kok berbeda. Kami di Maluku ada seribu pulau lebih tapi dibandingkan dengan Jawa kok beda sekali. Sekolah-sekolahnya, rumah-rumah sakitnya, segala fasilitas jauh berbeda,” lanjut Zulkifli Hasan.

Kesenjangan demi kesenjangan di republik ini, semakin hari tidak menunjukkan kondisi yang membahagiakan. Sebab, kian hari perbedaan kesejahteraan itu semakin melebar dan menjauh. “Semakin haris semakin jauh, ini melahirkan kesenjangan, jadi wajar kelau mereka bertanya,” katanya.

Tentunya kondisi seperti itu tidak boleh dibiarkan begitu saja oleh setiap elemen di republik ini. Harus ada langkah cepat agar kesenjangan tersebut berhenti dan menuju arah perbaikan agar seluruh anak bangsa ini bisa merasakan manfaat dari pembangunan yang dilakukan.

Ternyata kesenjangan, menurut Zulkifli Hasan, juga terjadi pada bidang lain yang memegang peranan sangat penting. Yaitu dalam bidang politik. Partai politik yang sejatinya menjadi jembatan kepenting rakyat banyak justeru telah mempertontonkan prilaku sebaliknya dan menjauhkan diri dari para pemilih.

“Juga kesenjangan politik yang melahirkan keresahan. Publik dengan partai beda. Sehingga publik tidak merasa diwakili oleh partai politik yang ada di parlemen. Sehingga masyakarat sudah enggak percaya sama partai-partai. Publik mulai kehilangan rasa percaya kepada partai. Partai-partai seperti milik orang per orang. Bukan suara publik yang diperjuangkan,” tegas Zulkifli Hasan lagi.   {007}.

Comments

comments