Pelemanah Nilai Rupiah Menggerus Pendapatan BUMN

E Herman Khaeron.

WAKIL Ketua Komisi VII DPR RI, E Herman Khaeron menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika telah berakibat pengurangan pendapatan beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Pertamina dan PLN. Hal itu disebabkan kedua BUMN tersebut membeli produk dengan dollar Amerika sedangkan pendapatan menggunakan rupiah.

“Sebagai contoh, pembelian energy primer PLN adalah USD, pendapatannya dalam rupiah, jelas akan menggerus keuntungannya PLN. Demikian juga dengan harga BBM, selain ICP juga naik, pengaruh USD juga akan menggerus pendapatan Pertamina, karena pendapatan pertamina dalam rupiah,” kata Herman dalam pesan elektronik yang diterima, Jumat, (18/5) dini hari.

“Sudah pasti berpengaruh, dan US dollar sebagai acuan nilai tukar mata uang dunia ketika naik pasti juga nilai mata uang lainnya akan naik,” sambung Herman.

Belum lagi beban yang harus dipikul Pertamina terhadap program bahan bakar minyak (BBM) satu harga. Biaya perolehan bbm yang sudah sangat tinggi masih harus ditambah dengan biaya distribusi agar produk tersebut bisa sampai di tangan konsumen. “Apalagi dengan harga penugasan solar dan premium, BBM 1 harga, dan pembatasan harga non subsidi,” lanjut Herman.

Kondisi seperti itu tentu akan menjadikan kedua BUMN tersebut mengalami kerugian. “Artinya setiap basis yang pembelian dan pembayarannya dengan USD dan pendapatannya dalam rupiah, kalau tidak melakukan penyesuaian harga pasti merugikan,” jelas Herman.

“Namun anehnya pemerintah seperti enteng-enteng saja melihat kondisi ini, padahal kehidupan bagi masyarakat saja semakin susah,” ujar Herman.   {007}.

Comments

comments