BUMN Dikhawatirkan Sedang Menuju Kebangkrutan

M Nizar Zahro (pegang mic).

KETUA Umum Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria), Moh Nizar Zahro mengatakan bahwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bangsa ini berada pada posisi menuju sebuah kebangkrutan. Hal tersebut dikatakan Nizar berdasarkan pada beberapa faktor.

“Misalnya, PLN memiliki tugas menyukseskan proyek listrik 35 ribu megawatt. Meskipun proyek meleset jauh dari target, namun telah membebani PLN. Pada kuartal I 2018, PLN mengalami kerugian sebesar Rp 6,49 triliun.  Ada kenaikan beban usaha sebesar Rp 10 triliun,  menjadi Rp 70,35 triliun dari Rp 60,63 triliun,” tegas Nizar menyebutkan salah satu contoh kondisi menuju kebangkrutan BUMN, dalam pesan elektroniknya, Senin, (30/7).

Tidak hanya itu, kerugian dalam jumlah sangat besar juga dialami BUMN lainnya, seperti Pertamina. Perusahan tersebut merugi lantaran diberi tugas menjamin Bahan Bakar Minyak (BBM) satu harga.

“Pertamina diperintah untuk memberlakukan 1 harga BBM di seluruh Indonesia. Padahal ada jarak ada harga. Tapi pemerintah tidak mau tahu dan tidak peduli atas kesulitan dana yang dialami oleh Pertamina. Akibat penugasan tersebut, per 30 Juni 2017 kerugian Pertamina sudah mencapai Rp. 12 triliun, termasuk kerugian atas penjualan premium,” tegas Nizar lagi.

Demikian pula dengan Garuda Indonesia. BUMN sektor transportas udara ini, menurut Nizar, dibebani untuk membeli puluhan pesawat. Tentunya pembelian tersebut menimbulkan biaya yang sangat besar dan harus ditanggung oleh perusahaan tersebut.

“Garuda Indonesia dipaksa memesan 90 pesawat. Adapun nilai pesanannya mencapai 20 miliar dollar AS atau sekitar Rp 266 triliun (kurs waktu itu Rp. 13.300 per dollar AS). Angka ini merupakan rekor pembelian pesawat terbesar. Nyatanya, pembelian tersebut membebani keuangan Garuda. Utang Garuda hingga September 2017 melonjak Rp11,6 triliun. Pada 2017, Garuda juga mengalami kerugian Rp. 3,07 triliun,” lanjut Nizar.

Kata Nizar, contoh-contoh yang diuraikannya diatas hanya sebagian saja. Karena masih banyak hal-hal yang seharusnya tidak terjadi, namun berjalan dan dinilai Nizar sangat merugikan perusahaan milik rakyat tersebut.

“Tidak hanya Pak Prabowo, seluruh rakyat pasti geram jika mengetahui ada BUMN hendak diobral. BUMN adalah pertahanan terakhir bagi perekonomian suatu bangsa. Jika sebagai pertahanan terakhir kondisinya sudah berdarah-darah dan bahkan hendak dijual. Itu menandakan ekonomi Indonesia sedang sakit,” tutup Nizar.   {007}.

Comments

comments