Rupiah Tetap Anjlok Meski Hampir Rp 1 Triliun Uang Rakyat Habis Dipakai

M Nizar Zahro (tengah, peci hitam).

KETUA Umum Satria Gerindera, Moh. Nizar Zahro mengaku miris melihat kondisi di republik ini. Meski uang rakyat yang jumlahnya hampir mencapai Rp 1 triliun habis dipakai untuk suatu perhelatan IMF/World Bank di Bali pada 8-14 Oktober 2018, namun nilai tukar mata uang bangsa ini terhadap dollar Amerika tetap anjlok.

“Indonesia telah mengeluarkan biaya yang sangat besar. Hampir Rp. 1 triliun!! Sekarang apa manfaatnya bagi Indonesia. Nihil!! Tidak percaya?? Lihat nilai rupiah. Tetap nyungsep. Tidak ada gairah ekonomi. Amsyong. Sudah keluar duit Rp. 1 truliun, tapi hasil nihil,” tegas Nizar dalam siaran pesan elektronik yang diterima, Kamis, (11/10).

Dalam pesan elektroniknya itu Nizar juga membantah pernyataan yang mengatakan bahwa biaya sebesar itu bukan untuk kegiatan tersebut.

“Atas adanya bantahan presiden, maka patut diluruskan bahwa pernyataan presiden salah tempat. Sejatinya, anggaran pembangunan apron bandara yang dimaksud Jokowi ada di Kemenhub, sedangkan anggaran terowongan persimpangan ada di KemenPupera. Adapun angggaran pertemuan tahunan IMF-WORLD BANK di Bali itu valid dari APBN tahun anggaran 2017 dan 2018 di pos Kementerian Keuangan. Khusus untuk anggaran 2018, berdasarkan Kertas Kerja Satker tahun anggaran 2018, bahwa biaya annual meeting IMF/WB telah dialokasikan sebesar Rp. 750 miliar. Dengan kode 055. Biaya tersebut belum termasuk yang dikeluarkan oleh BI sebesar Rp. 200 milyar yang dialokasikan untuk biaya persiapan untuk hotel, lokasi acara (venue), serta ruang perkantoran (office). Adapun anggaran Rp. 750 miliar oleh Kementerian Keuangan dipergunakan untuk membiayai : Biaya jasa profesional congres organizer Rp. 602,2 miliar, belanja perjalanan luar negeri Rp. 2,581 miliar, Kesekreatariatan 18,510 miliar, dukungan penyelenggaraan IT infrastruktur Rp. 0,234 miliar, kegiatan pendukung pelaksanaan rapat Rp. 116,389 miliar, dan perangkat ITEnd user Rp. 10,133 miliar,” jelas Nizar yang juga Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI itu.

Dalam kesempatan itu Nizar tidak dapat menepiskan kegundahan hatinya atas sikap pemerintah yang tetap menjalankan perhelatan tersebut. Padahal, beberapa waktu sebelumnya sebagian rakyat republik ini di Sulawesi Tengah sedang berduka lantaran diterpa tsunami dan gempa.

“Tengok saja pelaksanannya. Tidak ada greget. Sepi pemberitaan. Bahkan paling banyak menerima hujatan. Bagaimana bisa menggelar pesta, bila rumah sebelah sedang berkabung? Itulah gambarannya. Di Bali ada pesta, di Lombok dan Palu sedang berduka,” lanjut Nizar.

“Bang Haji Rhoma Irama benar dalam syair lagunya. Pesta pasti berakhir, pesta pasti berakhir. Tak terkecuali pesta jamuan IMF/World Bank di Bali. Bahkan pesta tersebut “sudah berakhir” sebelum dimulai,” sambung Nizar.

Selayaknya, kata Nizar lagi, pemerintah setidaknya menunda pelaksanaan kegiatan berbiaya sangat tinggi tersebut. Kalaupun tidak mampu, acara tersebut dapat diselenggarakan dengan biaya paling rendah.

“Sebagai manusia waras mestinya membatalkan atau menunda pesta tersebut. Atau kalau sudah terlanjur menyebar undangan, maka buatlah sesederhana mungkin. Tapi ini sebaliknya, kemewahan tetap dipertontonkan. Mobil mewah dipajang tanpa rasa malu. Ironis,” kata Nizar lagi.

“Rapat mewah IMF-World Bank tetap berlangsung di Bali, 8-14 Oktober 2018. Bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Lombok dan Palu tidak mampu menghentikan pesta-pora tersebut. The show must go on. Dikatakan rapat mewah, ini sesuai dengan pernyataan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, bahwa Annual Meeting di Bali merupakan yang terbesar sepanjang sejarah,” tulis Nizar lagi.   {007}.

Comments

comments