Persoalan Papua Harus Diselesaikan Oleh Tokoh-Tokoh Papua

Ricky F Wakanno (kanan), Maksimus (tengah).

KEPALA Bagian Opsnalev Korbinmas Baharkam Polri, Kombes Pol Ricky F Wakanno mengatakan bahwa penyelesaian berbagai bentuk konflik di Papua harus diselesaikan dengan melibatkan tokoh-tokoh utama setempat.

Pelibatan pihak luar dikhawatirkan hanya akan menambah persoalan baru. “Strategi saya, kita harus masuk ke sana kita bawa tokoh-tokoh sangat sentral di Papua. Jangan orang-orang luar,” kata Ricky saat berbicara pada Focus Group Discussion (FGD) Binmas Noken Polri di Jakarta, Selasa, (11/12).

Statemennya itu, lanjut Ricky, didasarkan pengalamannya bertugas di Papua yang dulu dikenal dengan sebutan Irian Jaya sekitar 10 tahun lamanya.

Menurut Ricky, saat dirinya bertugas di Papua juga menggunakan pendekatan emosional kepada seluruh masyarakat yang ditemuinya. “Orang sana (Papua) inginya yang soft. Saya lakukan pendekatan emosional dengan mereka. Saya tahun 1987 ke Papua, artinya sudah 31 tahun yang lalu,” lanjut Ricky.

Dalam kesempatan itu Ricky juga mengatakan bahwa program Perpolisian Masyarakat (Polmas) yang pernah digagas di republik ini beberapa waktu lalu telah menunjukkan hasil yang sangat efektif, termasuk bagi wilayah-wilayah rawan konflik.

Dengan Polmas tersebut, Polri aktif membantu mencarikan jalan keluar bagi persoalan utama yang dialami masyarakat, yakni peningkatan kesejahteraan. “Olah Pak Hendarso (Bambang Hendarso Danuri, mantan Kapolri) saya diberi tugas menjadi penanggungjawab penanaman jagung di wilayah Sumatera Utara. Hasilnya, masyarakat setempat yang dilibatkan dalam program tersebut sampai bisa mengekspor jagung ke luar negeri,” papar Ricky.

Hal serupa juga serupa juga sedang dilakukan oleh Binmas Polri di Papua. Program yang dikenal dengan sebutan Binmas Noken itu, terbukti mampu memberi sumber penghasilan tambahan yang signifikan bagi masyakarat Papua, khsusunya yang berdomisili di pegunungan-pegununan terpencil.

Salah satu komoditas yang telah berhasil dikembangkan di Papua adalah kopi jenis arabika. Maksimus, salah seorang Kepala Suku yang ditemui di lokasi FGD mengatakan bahwa telah mampu menyekolahkan anak-anaknya dengan menggunakan uang hasil bertanam kopi.

“Ada hasil-hasil kita yang sudah dijual. Saya usaha kopi organik, kopi arabika di pegunungan. Bisa kita biayai anak-anak, kita sekolahkan di sini itu hasil kemampuan kita. Bimas Noken dari pusat sampai daerah masuk, kita harapkan memperpanjang campur tangan pusat sampai daerah itu yang kita harapakan kedepan,” kata Maksimus.

“Kita punya potensi cukup, tinggal kita gali kemampuan kita. Pusat, daerah harus buka mata. Kami gali kemampuan itu lewat Bimas noken. Hasil bumi di pegunungan itu,” sambung Maksimus.   {007}.

Comments

comments