Bamsoet: Jihad Melawan Narkoba Tidak Boleh Berhenti

Bambang Soesatyo (kemeja putih) bersama Kapolri, Jendral Polisi Idhan Aziz melakukan pemusnahan Narkoba.

KETUA MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan bahwa pemberantasan terhadap peredaran Narkotika tidak boleh berhenti, meski saat ini sedang ada Pandemi Covid19. Ternyata hal tersebut dibuktikan oleh Jajaran Polda Metro Jaya dengan peredaran barang terlarang tersebut yang merupakan bagian dari jaringan Timur Tengah.

“Jihad memberantas Narkoba tak boleh kendur sampai kapanpun, bahkan disaat pandemi Covid-19. Mengingat bisnis haram Narkoba bukan hanya mempertaruhkan nyawa lebih dari 260 juta rakyat Indonesia, melainkan juga mempertaruhkan masa depan Indonesia. Ditambah potensi perputaran uang yang luar biasa, mencapai triliunan rupiah per tahunnya, sehingga perang melawan Narkoba bisa jadi akan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Karenanya aparat penegak hukum tak boleh kendur,” tulis Bamsoet dalam pesan elektroniknya, usai menghadiri acara pemusnahan barang bukti Narkoba di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (2/7).

Dalam kesempatan itu Bamsoet juga mengungkapkan, berdasarkan data United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC/Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Narkoba dan Kejahatan), sejak 2009 hingga 2018 tercatat sudah ada 803 jenis Narkoba baru yang beredar di seluruh dunia. 74 jenis diantaranya sudah masuk Indonesia.

“Ini membuktikan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu pasar utama peredaran Narkoba. Kerjasama penegak hukum lintas negara sangat penting diperkuat. Karena aktivitas para bandar tak hanya berada tunggal dalam satu negara saja,” ungkap Bamsoet.

Bamsoet menambahkan, tak menutup kemungkinan, masuknya Narkoba dari luar negeri yang diselundupkan melalui berbagai jalur ke Indonesia, juga merupakan bagian dari invansi senyap berbagai pihak yang tiadk ingin melihat Indonesia maju menjadi kekuatan ekonomi, sosial, dan politik dunia. Karena itu yang dihancurkan pertama kali adalah generasi muda bangsa dan berbagai lapisan penduduk melalui jeratan Narkoba.

“Kejahatan peredaran Narkoba pun tak berdiri sendiri. Melainkan diikuti kejahatan lainnya, seperti perampokan, pencucian uang, perdagangan orang, hingga pembunuhan. Pemberantasannya pun tak cukup hanya dengan regulasi, melainkan harus dengan aksi nyata. Sebagaimana sudah ditunjukan oleh personil kepolisian di Polda Metro Jaya,” tandas Bamsoet.

Bamsoet menuturkan, kerjasama lintas sektor di dalam negeri juga perlu diperkuat oleh kepolisian untuk menutup celah masuknya Narkoba. Misalnya membangun sinergitas dengan Kementerian Desa, sehingga bisa memperkuat peran desa dalam memberantas Narkoba. Terlebih jaringan personil kepolisian tersebar ke berbagai pelosok, sehingga bisa memonitor berbagai kegiatan di desa-desa.

“Selain dibutuhkan peran keluarga untuk melindungi setiap anggota keluarga dari jeratan Narkoba, juga diperlukan peran maksimal dari pemerintahan desa hingga RT-RW sebagai unit terkecil dalam sistem bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan demikian, sekuat apapun para bandar dan mafia Narkoba memasukan barang haram tersebut ke Indonesia, tak akan mampu menggoda anak bangsa Indonesia untuk mencicipinya,” pungkas Bamsoet. {007}.

Comments

comments