MABESAD: Leopard Cocok Untuk Indonesia

andika

Brigjen TNI Andika Perkasa

KADISPEN TNI AD, Brigjen TNI Andika Perkasa menegaskan bahwa Tank Leopard yang dipergunakan cocok dengan berbagai medan di tanah air ini. Kondisi jalan maupun jembatan yang dimiliki oleh negara ini juga mampu dilalui oleh salah satu alat pertahanan tersebut. “Sekalipun berat Tank Leopard +/- 60 Ton, TEKANAN JEJAK pada tanah hanya 0.8 kg/cm2 atau 8.9 Ton/m2. Tekanan Jejak ini relatif sama dengan Tank AMX-13 (Berat 14.5 Ton) & Scorpion (Berat 8 Ton),” kata Andika dalam siaran pers yang diterima, Minggu, (30/3) malam.

Bahkan dalam kesempatan itu Andika juga menjelaskan bahwa Tank Leopard tersebut memungkinkan untuk melewati jalan kelas dua yang dimiliki negara ini. Sehingga, kekhawatiran kendaraan tempur itu akan merusak infrastruktur kuranglah tepat. “Dengan Tekanan Jejak 8.9 Ton/m2, Tank Leopard Sangat Memenuhi syarat gunakan Jalan Kelas 1 & 2 di Indonesia (Perda: Muatan Sumbu Terberat di jalan Kelas ini bisa lebih dari 8 Ton/m2),” jelas Andika.

Tidak hanya itu, Andika juga memastikan bahwa Tank Leopard itu mampu melakukan gerakan-gerakan yang sangat lincah khususnya dalam menjalankan tugas sehari-hari. Sehingga, kehadiran tank tersebut di dalam jajaran kekuatan tempur kita sangatlah mendukung. “Tank Leopard mampu manuver off road, di permukaan berlumpur, di sungai dng kedalaman < 4m. Beban Terbagi Rata Tank Leopard (q = 2.38 kNm2) masih lebih kecil dari Jembatan Kelas A & B (q = 4.46 kNm2) di Indonesia (lebar 6m, panjang 40m),” ujar Andika.

Dengan berbagai kelebihannya itu, maka Tank Leopard banyak digunakan oleh ratusan negara di dunia ini. Sehingga, pengunaan alat temput itu oleh Indonesia sangatlah tepat dengan perkembangan kondisi dalam dan luar negeri saat ini. “Ada 140 negara pengguna MBT diseluruh dunia, dengan 65 jenis MBT yang berbeda. Khusus Tank Leopard digunakan oleh 20 negara besar (14.3 % dari total MBT), mulai dari Australia, Austria, Brazil, Canada, Chili, Denmark, Finlandia, Jerman, Yunani, Indonesia, Italy, Lebanon, Norwegia, Polandia, Portugal, Singapura, Spanyol, Swedia, Swiss, sampai Turki,” lanjut Andika.

Terhadap tudingan yang menyebutkan Leopard hanya cocok bagi negara bergeografis padang pasir, tentunya hal tersebut tidaklah tepat. Sebab, mayoritas negara-negara pengguna Leopard tidaklah memiliki padang pasir. “Dari 20 negara tersebut, hanya 3 (15 %) yang memiliki Padang Pasir. 85 % dari negara2 tersebut tidak memiliki Padang Pasir,” tegas Andika.

Di dalam negeri, Andika mengatakan bahwa Tank Leopard itu sendiri telah didistribusikan pada beberapa titik strategis guna menunjang tugas TNI AD sehari-hari. “Untuk penempatan 103 unit Tank Leopard TNI AD : Batalyon Kavaleri 1 Kostrad, Cijantung (total 41) :13 Leopard 2A4, 28 Leopard 2 RI. Batalyon Kavaleri 8 Kostrad, Pasuruan (total 41) : 28 Leopard 2A4, 13 Leopard 2 RI. Pusat Pendidikan Kavaleri, Padalarang (total 4) : 3 Leopard 2 RI, 1 Leopard 2A4. Kompi Kavaleri CAMB, Sentul : 13 Leopard 2 RI. Kompi Kavaleri Pusat Latihan Pertempuran, Baturaja (total 4) : 4 Leopard 2 RI. Dari kebutuhan 103 garasi Tank Leopard, 82 diantara-nya (79.6 %) sudah selesai dibangun di berbagai lokasi tsb. Sisa-nya akan diselesaikan tahun 2014,” kata Andika.   (cr7)

Comments

comments