Waspadai Impor Gandum Berlebihan

20120125gandum

Produk Olahan Gandum (www.antaranews.com)

 

IMPOR komoditas gandum yang berlebihan di negara ini harus segera diwaspadai oleh semua pihak. Sebab, jika dibiarkan keberadaan gandum di tanah air bisa mengganti komoditas lokal sebagai kebutuhan pokok masyarakat. “Ini bahaya, karena selama 20-30 tahun terakhir imporya naik terus. Sekarang sudah 7 juta ton per tahun. Kalau sebelumnya mengkuti deret angka kedepan ini bisa deret ukur,” kata Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog), Sutarto Alimoeso saat dihubungi, Selasa, (26/8).

Salah satu alasan semakin besarnya impor gandum, lanjut Sutarto, adalah lantaran bahan pangan penganti beras diisukan tidak ada. Padahal, kata Sutarto, negara ini mempunyai bahan pagan pokok yang sangat banyak. “Dengan alasan substitusi lain dari produk lokal tidak ada. Karena memang kurang diperkenalkan yang lokal. Kalau tidak hati-hati kita berbahaya dalam hal tergantung pangan impor,” lanjut Sutarto.

Sutarto mengisahkan, saat dirinya masih pada masa kanak-kanak, mie instant yang merupakan produk olahan dari gandum, hanyalah sebagai lauk pauk. Namun sekarang mie instan sudah menjadi makanan pokok bagi sejumlah masyarakat negara ini. Tentunya rentang waktu 20-30 tahun belakangan telah terjadi pergeseran budaya konsumsi di masyarakat kita. “Sekarang sudah tidak lagi sebagi makanan selingan. Dulu jadi lauk sekarang jadi makanan pokok. Mestinya jangan sampai begitu,” urai Sutarto.

Untuk itu kedepannya Sutarto berharap dilakukan upaya yang serius dan massif untuk membesarkan produk-produk makanan pengganti beras produksi dalam negeri. Berbagai jenis umbi-umbian yang dimiliki negara ini, kata Sutarto, bisa dijadikan sebagai makanana yang berkualitas dan nikmat. Meskipun untuk menggapai tujuan itu harus ada upaya keras dan cerdas dari pemimpin negeri ini. “Pola makan adalah budaya. Supaya menjadi budaya yang benar harus diinternalisasikan sejak kecil. Intinya disitu.

“Harusnya tidak sulit kalau kita mau melaksanakannya secara inklusif. Kita pengalaman bagaimana merubah kosumsi pangan lokal menjadi beras. Ini pengalaman sekian puluh tahun. Tiga puluh tahun terakhir ini banyak pihak yang konsumsi pangan lokal dirubah menjadi impor seperti gandum. Artinya untuk melakukan diversifikasi pangan tidak bisa hanya spot-spot mendadak, hanya selenggarakan pameran pangan non beras. Ini harus diinternalisasikan sejak anak masih kecil. Jadi harus dikenalkan dulu. Bisa singkong, ubi jalar, talas-talasan, sukun. Termasuk nanti buah-buahan dalam negeri. Kalau dikenalkan secara internalisasinya kuat,” sambung Sutarto.

Sutarto juga sepakat jika kedepannya peran berbagai lembaga penilitian dan pengembangan bidang pangan lebih diperkuat lagi. Sehingga dari pusat penelitian-penelitian tersebut bisa dihasilkan fariasi-fariasi makanan pengganti beras yang berbahan dasar produk lokal. “Memang teknologi harus semakin dikembangkan. Petani juga harus memproduksi. Itu tidak susah kok memproduksinya. Kan pada akhirnya petani juga yang akan menikmati hasinya,” tegas Sutarto.   (cr7).

Comments

comments