Ruu Sistem Perbukuan Cegah Penyebaran Isu SARA

Noor Achmad

Noor Achmad (kiri), Kartini (kanan).

ANGGOTA Komisi X DPR RI, Noor Achmad  menegaskan bahwa RUU Sistem Perbukuan diyakini mampu mencegah penyebaran paham-paham SARA di masyarakat. “Jangan sampai ada buku-buku yang masuk unsur SARA,” kata Noor di DPR RI, Selasa, (20/9).

Noor mengkhawatirkan dampak yang sangat buruk jika isu SARA bisa masuk dalam buku dan terdistribusikan ke seluruh pelosok republik ini. “Kalau SARA dikembangkan lewat buku, ini berbahaya,” ujar Noor.

RUU tersebut, lanjut Noor, juga diharapkan mampu menghindari masuknya materi-materi pornografi pada buku pelajaran anak-anak. Sedangkan, yang terjadi sebelum ini, anak-anak sekolah dasar dihadapkan pada isi buku pelajaran berisi pornografi. “Jangan sampai buku anak-anak yang dimasuki hal-hal tentang orang dewasa,” lanjut Noor.

Ruang Iklan

Dalam RUU itu pula, Noor mengaku akan memasukkan isi tentang kewajiban pemerintah membiayai pembuatan buku-buku tertentu. Dengan cara itu diharapkan buku-buku yang sanagat dibutuhkan masyarakat bangsa ini bisa diperoleh dengan mudah di pasaran. “Untuk buku tertentu pemerintah harus hadir dalam pembiayaan,” jelas Noor.

Direktur Penerbit Yayasan Obor Indonesia, Kartini mengatakan bahwa ruu tersebut sudah sangat lama menjalani pembahasan di DPR RI. Kartini juga mengaku heran mengapa hingga kini ruu tersebut belum bisa juga disahkan menjadi undang-undang di republik ini. “Soal undang-undang sistem perbukuan ini susah lama sekali dibahas, lebih dari 10 tahun tidak selesai-selesai,” kata Kartini.

Kartini juga mengatakan bahwa substansi pembahasan ruu tersebut hingga kini belum maksimal. “Kami lihat rancangannya itu belum final,” ujar Kartini.   {007}.

Ruang Iklan

Comments

comments